Senin, 28 September 2009

AYAH JUGA LUPA

Jangan suka mengkritik, kalau menginginkan perubahan sikap pada seseorang. Seperti cerita ini Ayah Juga LupaW Livingsrone Larned.

Dengar, nak : Ayah mengataka ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah anga kecil merayap dibawah pipimu dan rambutmu yang keriting lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri kekamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran diruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalammenerpa. Dengan perasaan bersalah ayah datang menghampiri pembaringanmu.

Ada ha-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketikakau sedang berpakaian hendak pergi seklah karena kau cuma menyeka mukamu ekilas denagn handuk. Lalu ayah lihat kau tidakmembersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terbururu makananmu. Kau meletakkan sikumu diatasmeja. KLaumengoleskan mentega telalu tebal dorotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan ayah barengkat mengejarbus, kau berpaling dan kau melambaikan tangan sanbil berseru "Selamat jalan ayah!" dan ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab " Tegakkan bahumu".

Kemudian semua itu berulang pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah sedang menamatimu dengan cermat,memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang main kelereng. Ada lubang-lubang pada kausmu. Ayah menghinamu didepan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang kerumah. Kaos mahal - dan kalau kau yang membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

Apakah kamu ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca diruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan perasaan terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar dengan gangguaanmu, kau jadi ragu-ragu didepan pintu. " Mau apa kau?" Semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah katapun, melainkan berlari melintas dan melompat kearah Ayah, kau lemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang tuhan tetepkan untuk mekar dihatimu dan yang bahkan pengabaian sekaipun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah nak, sesaat setelah itu  koran jatuh dari tangan Aayh, dan rasa takut yang meyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca- ini adalah hadiahAyah untukmu sebagai anak laki-laki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun ayah sendiri.

Dan sebenarnya begtu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mngil milikmu sam besanya denganfajar yang memayungi bukit-bukit yang luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur Ayah. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ditepi pembaringanmu salam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut disana, dengan rasa malu!

Ini adalah rasa tobat yang lemah; Ayah tau kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau tejaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggit lidah Ayah kalau kata-kata tidar sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah sebuah ritual: " Dia hanya seorang anak kecil-- anak lelaki kecil!

Ayah sudah kawatir sedang membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat ayah memandangmu sekarang, nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat idurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu berada dibahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.
~...~



Tidak ada komentar:

Posting Komentar